Promo Sebar Iklan
📢 Promo hari ini pasang iklan di internet murah 🚀 Buruan sebar iklan massal murah ke 1.000 website, hanya 150 ribu! 👉 Posting iklan di website Raja Iklan ini hanya Rp10.000 rupiah iklan tampil selamanya, hubungi Kami! 🎯 Jangan sungkan untuk kerjasama lainnya, hubungi Kami! 💥 Posting iklan di 50 website! dikerjakan manual ada Diskon besar !!!
setidaknya satu iklan Anda harus ada di jaringan iklan unikbaca.com ini, agar pengunjung
atau pengakses dapat mencari dan tahu usaha Anda, posting iklan murah cuma 10 ribu saja
🎁 Promo Diskon Hari ini Pasang Iklan Murah Banget Klik di Sini

thumbnail

Mahkamah Konstitusi : Sulit Hilangkan Politik Uang Pilkada



Politik uang tampaknya tidak mudah diberantas, terutama saat pemilihan kepala daerah (pilkada). Hal ini diakui oleh ketua Mahkamah Konstitusi, Mahfud MD. "Kalau sistemnya seperti ini politik uang tak bisa dihilangkan," kata Mahfud usai menutup acara Pekan Konstitusi bertema "UUD 1945, Amandemen, dan Masa Depan Bangsa", Jumat (3/2).
 
Selain politik uang, menurut Mahfud, masalah lain terkait pilkada adalah diskriminasi promosi bagi pegawai pemerintahan daerah. "Pegawai yang tidak mendukung incumbent dipecat. Kalau incumbent kalah, pegawai yang mendukung dia juga dipecat oleh yang menang," katanya.

Persoalannya, lanjut Mahfud, hal-hal seperti itu tidak dapat dijadikan dasar untuk membatalkan hasil pilkada. Oleh karena itu, perlu dipikirkan sistem pemilihan kepala daerah yang lebih baik.
Sebelumnya Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Masdar Farid Mas'udi di dalam forum dialog Pekan Konstitusi menyatakan, demokrasi di Indonesia "dibajak" oleh kemiskinan rakyat. "Kemiskinan membuat rakyat menjual suaranya. Akibatnya, wakil rakyat tidak merasa mewakili karena sudah membeli," katanya.

Sedangkan Sekretaris Jenderal International Conference of Islamic Scholars (ICIS) KH Hasyim Muzadi menyatakan memang ada yang salah dengan sistem ketatanegaraan di Indonesia.
Demokrasi di Indonesia, menurutnya, jauh dari nilai-nilai dasar Pancasila yang merupakan menjadi dasar negara ini. "Bukannya Ketuhanan Yang Maha Esa, tetapi keuangan yang maha kuasa," katanya.
Sumber : Republika 

Posting Iklan 50 Situs